Feeds:
Posts
Comments

GOD’s LOVE Wall

GODsLOVE-400x300

It wonderful to see
what GOD had done to my life
He treats me softly
He cares for me frequently
He listens to me patiently
He shows me the best way in life

but I never gives anything to Him
and He never ask for it
If I make mistake in my own way
He gives me a little punishment …
if I’m not so good after that
He still gives me a few more times
I know although I always make …
the same mistake,
I always make Him angry
I always neglect Him voice
I always do what He does not like
there’s something I always know
that is ……
He will never leave me alone

Free Download Klik Here.

Advertisements

Tuhan Yang Paling Tahu

Sebuah gambar renungan.. Tentang bagaimana Tuhan membantu kita di setiap kesulitan yang kita hadapi….








Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor burung pipit merasakan tubuhnya kepanasan. Lalu ia mengumpat kepada lingkungan yang tidak bersahabat dengannya, kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dulu menjadi habitatnya. Ia terbang ke utara, yang konon kabarnya disana udaranya selalu sejuk dan dingin. Ternyata benar, ia mulai merasakan sejuknya udara di utara. Makin ke utara, ia makin merasakan sejuknya udara disana. Ia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, ia tidak sadar bahwa kepakan sayapnya telah tertempel oleh gumpalan salju. Makin lama makin tebal, dan akhirnya ia terjatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus oleh salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di tubuhnya justru semakin tebal hingga akhirnya si burung pipit tidak mampu berbuat apa-apa. Dia menyangka bahwa riwayatnya telah tamat pada saat itu, dan ia merintih sambil menyesali nasibnya.

Mendengar suara rintihan si burung pipit, ada seekor kerbau yang kebetulan melintas dan menghampirinya. Namun si pipit kecewa, mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Ia pun menghardik si kerbau agar menjauh dan dalam hatinya mengatakan, makhluk yang tolol tidak akan berbuat sesuatu untuknya.

Si kerbau tidak banyak bicara. Ia hanya berdiri, lalu ia buang air kecil tepat di atas burung pipit tersebut. Si Pipit makin marah dan memaki-maki si kerbau. Namun, si kerbau tetap diam tanpa bicara sepatah kata. Ia pun maju selangkah, dan membuang kotorannya tepat di atas tubuh si Pipit. Dan seketika, Pipit tidak dapat bicara karena telah tertutup kotoran kerbau, dan si burung pipit mengira dia akan mati karena tidak bisa bernafas.

Namun perlahan-lahan, ia merasakan kehangatan. Salju yang menempel pada bulu-bulunya, perlahan-lahan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau tadi. Kemudian ia dapat bernafas lega dan dapat melihat kembali langit yang cerah.

Si Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas-puasnya. Karena mendengar suara nyanyian si burung pipit, ada seekor kucing yang mencari dan menghampiri sumber suara tersebut. Ia mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung pipit, kemudian menimang-nimangnya, menjilati tubuhnya, mengelus, dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu-bulu si burung pipit.

Setelah bulunya bersih, si burung pipit bernyanyi dan menari kegirangan. Ia mengira, telah mendapatkan teman yang baik dan baik hati.

Tapi, apa yang terjadi kemudian. Seketika itu juga, dunia terasa begitu gelap baginya. Dan, tamatlah riwayat si burung pipit saat itu.

Dalam kehidupan, tidak semuanya yang nampak baik itu baik, jahat itu jahat. Namun bisa saja berbalik meskipun terlihat elok, karena halaman tetangga yang nampak hijau belum tentu cocok buat kita. Dan yang terpenting, baik buruknya penampilan, jangan digunakan sebagai satu-satunya tolak ukur. Serta ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan sampai lupa serta keburu nafsu, agar kita tidak melupakan apa yang seharusnya dilakukan selanjutnya.

Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada kisah di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

 

Sumber: andyfebrian.com

Cerita mengharukan di bawah ini mengingatkan kita untuk semakin dan mencintai lebih dalam kepada Tuhan.

Diambil dari cerita nyata………

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya. Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut. “Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?”

“Ya, Bapa Pendeta!” balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut. Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”

“Terima kasih, Bapa Pendeta.” “Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?” “Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku.”

Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

“Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini. Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar. Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa……. paling tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi. Tolong Tuhan.

Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu. Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya…..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.

Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku. Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang.” Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .

“Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!” Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif. Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat.

Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka. Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan..Aku..” “Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!” Andy begitu terkejut,”Dimana Bapa Pendeta Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah untukNya..”

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. “Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!” Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja.

……Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang – disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika……….

Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi. Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,”Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?” Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,”Dia adalah sahabatku.” Hanya itulah yang dikatakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan. Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy. “Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?” “Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Ucap ibu Andy terisak.

“Apa katanya?” Ayah Andy berkata,”Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.

“Apa yang dikatakan?” “Dia berkata kepada putraku..” Ujar sang Ayah. “Terima kasih buat kadonya. Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,”Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa… kecuali dengan Tuhan.”

Kisah yang luar biasa, mengingatkan kita untuk terus mengucap syukur kepada Tuhan, karena seringkali kita lupa Bahwa Tuhan slalu “Peduli” dengan kita, apapun keadaan kita hari ini…1 hal kita semua adalah sahabatnya jika kita mencintaiNya.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

( Sumber : ceritakristen.org )

Setelah badai dan hujan lebat selalu ada pelangi, dibalik hal hal yang buruk pasti ada hal hal yang indah.

Mungkin saja usaha pekerjaan kita sedang tertutup, tetapi tidak ada alasan sedikitpun untuk kita menjadi frustasi dan kecewa.

Ibrani 6:19
“Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,”

Sebagaimana matahari hanya sementara sembunyi dibalik awan demikian juga sukses dan keberhasilan.

✽ Selalu ada sinar matahari dibalik setiap awan, selalu ada pelajaran dan pengharapan di antara setiap ujian ✽

Mulai hari ini bangun iman dan pengharapan pada TUHAN, maju dan melangkah dengan keyakinan penuh untuk meraih sukses dan keberhasilan.

Selamat menjadi pribadi yang teguh di dalam berpengharapan dan tetaplah semangat dalam berjuang menggapai asa…

TUHAN YESUS memberkati kita semua…

"SINAR MATAHARI DIBALIK AWAN"

Setelah badai dan hujan lebat selalu ada pelangi, dibalik hal hal yang buruk pasti ada hal hal yang indah.

Mungkin saja usaha pekerjaan kita sedang tertutup, tetapi tidak ada alasan sedikitpun untuk kita menjadi frustasi dan kecewa.

Ibrani 6:19
"Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,"

Sebagaimana matahari hanya sementara sembunyi dibalik awan demikian juga sukses dan keberhasilan.

✽ Selalu ada sinar matahari dibalik setiap awan, selalu ada pelajaran dan pengharapan di antara setiap ujian ✽

Mulai hari ini bangun iman dan pengharapan pada TUHAN, maju dan melangkah dengan keyakinan penuh untuk meraih sukses dan keberhasilan.

Selamat menjadi pribadi yang teguh di dalam berpengharapan dan tetaplah semangat dalam berjuang menggapai asa...

TUHAN YESUS memberkati kita semua...
by John Lius
Alkisah, seorang lelaki muda yang sedang menaiki sebuah perahu kecil.
Wajahnya sangat muram dan terlihat sekali bahwa lelaki itu dalam keadaan tertekan.
Pemilik perahu itu tetap mendayung sambil mengarahkan perahunya sesuai permintaan lelaki muda tersebut.

“Hentikan perahunya jika sudah sampai di tengah lautan,” kata pemuda itu.

“Apa kau akan bunuh diri anak muda?”

“Bukan urusanmu.
Kau tidak pernah mengerti bahwa hidupku ini sangatlah berat.
Sama seperti perahumu yang akan tenggelam ini.”

“Oh, saya baru ingat sesuatu.
Pantas saja perahu ini hampir tenggelam.”
Pemilik perahu mulai mengambil sesuatu dari perahunya.
Tidak lama kemudian mulai dibuangnya satu-persatu.
Setelah itu perahunya mulai mengapung dengan sempurna.

“Apa yang kau lakukan pak tua?” tanya pemuda itu lagi.

“Aku hanya membuang batu yang tidak berguna.
Batu inilah yang membuat perahuku hampir tenggelam.
Dan setelah aku membuangnya, batu-batu itu tidak akan muncul lagi.
Mungkin kau juga harus membuang segala bebanmu.”

Kehidupan kita sama seperti sebuah perahu.
Jika perahu-perahu itu berlayar dengan mengangkut banyak batu, maka perahu itu akan kehilangan keseimbangan dan tenggelam.
Buat apa kita menyimpan segala beban dan memikulnya?
Apakah beban-beban itu dapat membawa kehidupan kita menjadi lebih baik?
Buanglah segala beban itu.

Kemana beban itu harus kita buang?
Tentu saja kepada Sang Empunya Kehidupan ini.
Lebih baik memfokuskan tujuan hidup kita daripada kita menghabiskan waktu hanya untuk meratapai segala beban hidup…

Photo: ¤¤• Batu Kehidupan •¤¤

Alkisah, seorang lelaki muda yang sedang menaiki sebuah perahu kecil.
Wajahnya sangat muram dan terlihat sekali bahwa lelaki itu dalam keadaan tertekan.
Pemilik perahu itu tetap mendayung sambil mengarahkan perahunya sesuai permintaan lelaki muda tersebut.

“Hentikan perahunya jika sudah sampai di tengah lautan,” kata pemuda itu.

“Apa kau akan bunuh diri anak muda?”

“Bukan urusanmu.
Kau tidak pernah mengerti bahwa hidupku ini sangatlah berat.
Sama seperti perahumu yang akan tenggelam ini.”

“Oh, saya baru ingat sesuatu.
Pantas saja perahu ini hampir tenggelam.”
Pemilik perahu mulai mengambil sesuatu dari perahunya.
Tidak lama kemudian mulai dibuangnya satu-persatu.
Setelah itu perahunya mulai mengapung dengan sempurna.

“Apa yang kau lakukan pak tua?” tanya pemuda itu lagi.

“Aku hanya membuang batu yang tidak berguna.
Batu inilah yang membuat perahuku hampir tenggelam.
Dan setelah aku membuangnya, batu-batu itu tidak akan muncul lagi.
Mungkin kau juga harus membuang segala bebanmu.”

Kehidupan kita sama seperti sebuah perahu.
Jika perahu-perahu itu berlayar dengan mengangkut banyak batu, maka perahu itu akan kehilangan keseimbangan dan tenggelam.
Buat apa kita menyimpan segala beban dan memikulnya?
Apakah beban-beban itu dapat membawa kehidupan kita menjadi lebih baik?
Buanglah segala beban itu.

Kemana beban itu harus kita buang?
Tentu saja kepada Sang Empunya Kehidupan ini.
Lebih baik memfokuskan tujuan hidup kita daripada kita menghabiskan waktu hanya untuk meratapai segala beban hidup...
by John Lius

Dalam sebuah perjalanan seorang ayah dengan puteranya, sebatang pohon kayu nan tinggi ternyata menjadi hal yang menarik untuk mereka simak. Keduanya pun berhenti di bawah rindangnya pohon tersebut.

“Anakku,” ucap sang ayah tiba-tiba. Anak usia belasan tahun ini pun menatap lekat ayahnya. Dengan sapaan seperti itu, sang anak paham kalau ayahnya akan mengucapkan sesuatu yang serius.

“Adakah pelajaran yang bisa kau sampaikan dari sebuah pohon?” lanjut sang ayah sambil tangan kanannya meraih batang pohon di dekatnya.

“Menurutku, pohon bisa jadi tempat berteduh yang nyaman, penyimpan air yang bersih dari kotoran, dan penyeimbang kesejukan udara,” jawab sang anak sambil matanya menanti sebuah kepastian.

“Bagus,” jawab spontan sang ayah. “Tapi, ada hal lain yang menarik untuk kita simak dari sebuah pohon,” tambah sang ayah sambil tiba-tiba wajahnya mendongak ke ujung dahan yang paling atas.

“Perhatikan ujung pepohonan yang kamu lihat. Semuanya tegak lurus ke arah yang sama. Walaupun ia berada di tanah yang miring, pohon akan memaksa dirinya untuk tetap lurus menatap cahaya,” jelas sang ayah.

“Anakku,” ucap sang ayah sambil tiba-tiba tangan kanannya meraih punggung puteranya. “Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” ungkap sang ayah begitu berkesan.**

Keadaan tanah kehidupan yang kita pijak saat ini, kadang tidak berada pada hamparan luas nan datar. Selalu saja ada keadaan tidak seperti yang kita inginkan. Ada tebing nan curam, ada tanjakan yang melelahkan, ada turunan landai yang melenakan, dan ada lubang-lubang yang muncul di luar dugaan.

Pepohonan, seperti yang diucapkan sang ayah kepada puteranya, selalu memposisikan diri pada kekokohan untuk selalu tegak lurus mengikuti sumber cahaya kebenaran. Walaupun berada di tebing ancaman, tanjakan hambatan, turunan godaan, dan lubang jebakan.

“Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran.”

Sahabat, Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” Siapapun Anda, bagaimanapun Anda, dan Dimanapun anda… tatap dan ikutilah cahaya lurus kebenaran… karena bila tidak anda akan tersesat dalam kegelapan. Dan Bila terperangkap dalam gelap, jangan mengutuki kegelapan, tapi nyalakan lah cayaha walaupun dengan Lilin…

¤¤• Jadilah seperti pohon •¤¤

Dalam sebuah perjalanan seorang ayah dengan puteranya, sebatang pohon kayu nan tinggi ternyata menjadi hal yang menarik untuk mereka simak. Keduanya pun berhenti di bawah rindangnya pohon tersebut.

“Anakku,” ucap sang ayah tiba-tiba. Anak usia belasan tahun ini pun menatap lekat ayahnya. Dengan sapaan seperti itu, sang anak paham kalau ayahnya akan mengucapkan sesuatu yang serius.

“Adakah pelajaran yang bisa kau sampaikan dari sebuah pohon?” lanjut sang ayah sambil tangan kanannya meraih batang pohon di dekatnya.

“Menurutku, pohon bisa jadi tempat berteduh yang nyaman, penyimpan air yang bersih dari kotoran, dan penyeimbang kesejukan udara,” jawab sang anak sambil matanya menanti sebuah kepastian.

“Bagus,” jawab spontan sang ayah. “Tapi, ada hal lain yang menarik untuk kita simak dari sebuah pohon,” tambah sang ayah sambil tiba-tiba wajahnya mendongak ke ujung dahan yang paling atas.

“Perhatikan ujung pepohonan yang kamu lihat. Semuanya tegak lurus ke arah yang sama. Walaupun ia berada di tanah yang miring, pohon akan memaksa dirinya untuk tetap lurus menatap cahaya,” jelas sang ayah.

“Anakku,” ucap sang ayah sambil tiba-tiba tangan kanannya meraih punggung puteranya. “Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” ungkap sang ayah begitu berkesan.**

Keadaan tanah kehidupan yang kita pijak saat ini, kadang tidak berada pada hamparan luas nan datar. Selalu saja ada keadaan tidak seperti yang kita inginkan. Ada tebing nan curam, ada tanjakan yang melelahkan, ada turunan landai yang melenakan, dan ada lubang-lubang yang muncul di luar dugaan.

Pepohonan, seperti yang diucapkan sang ayah kepada puteranya, selalu memposisikan diri pada kekokohan untuk selalu tegak lurus mengikuti sumber cahaya kebenaran. Walaupun berada di tebing ancaman, tanjakan hambatan, turunan godaan, dan lubang jebakan.

“Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran.”

...

Sahabat, Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” Siapapun Anda, bagaimanapun Anda, dan Dimanapun anda... tatap dan ikutilah cahaya lurus kebenaran... karena bila tidak anda akan tersesat dalam kegelapan. Dan Bila terperangkap dalam gelap, jangan mengutuki kegelapan, tapi nyalakan lah cayaha walaupun dengan Lilin...

by John Lius ..

Kisah di sebuah pedalaman, hidup seorang pemuda yang pemurung. Seluruh hidupnya selalu dia hiasi dengan penyesalan.

Kenapa aku lakukan itu tadi… Kenapa harus begini…

pernyataan selalu terlontar dalam benak pemuda itu…. Entah berapa hari dia lewati dengan penuh kemurungan itu… Hingga suatu hari di saat dia duduk di depan rumahnya muncullah seorang nenek yang tua sedang meminggul sesuatu yang sangat berat di punggungnya.

Herannya nenek itu tidak terlihat letih atau pun pucat. Mukanya tampak berseri-seri dan penuh senyuman. Lalu nenek itu bertanya ke pemuda itu.

“Nak… Nenek mau tanya… Kalau lewat jalan ini tembusnya kemana ya?” Pemuda itu merasa heran dan menjawab “Oh Nenek mau kemana? Kalau lewat jalan ini nenek akan ke desa seberang. Ehm nek apa yang Nenek bawa itu?” pemuda itu pun penasaran dengan ap yang dibawa nenek itu.

“Oh terima kasih nak… Nenek mau ke suatu tempat yang bisa menaruh apa yang nenek bawa ini” nenek itu pun menjawab. “Memang apa yang nenek bawa ini?” pemuda itu mulai penasaran.

“Nenek membawa kerikil yang nenek pungut di sepanjang perjalanan nenek ini.” Nenek itu menjawab sambil tersenyum

“Maksud nenek yang nenek bawa itu kerikil? Khan itu berat Nek? Kenapa nenek tidak merasa lelah membawa kerikil sebanyak itu?” Pemuda itu makin penasaran.

“Karna nenek mrasa yang nenek bawa ini bukanlah sebuah kerikil yang memberatkan nenek.. Kerikil ini adalah bagian dari perjalanan nenek menuju tempat dimana harus kerikil ditaruh. Kerikil itu indah Nak… dan nenek bahagia membawanya.”

Perkataan nenek itu membuat pemuda itu terdiam sejenak… lalu pemuda itu bertanya “Ehm… Kalau boleh saya tahu tempat yang nenek sebut tadi untuk menaruh kerikil ini dimana nek?”

Dengan senyum yang berseri… nenek itu menjawab “Kenangan Nak ” Lalu nenek itu berjalan lagi dan menghilang di rerimbunan hutan…

Kerikil-kerikil

Kisah di sebuah pedalaman, hidup seorang pemuda yang pemurung. Seluruh hidupnya selalu dia hiasi dengan penyesalan.

Kenapa aku lakukan itu tadi... Kenapa harus begini...

pernyataan selalu terlontar dalam benak pemuda itu.... Entah berapa hari dia lewati dengan penuh kemurungan itu... Hingga suatu hari di saat dia duduk di depan rumahnya muncullah seorang nenek yang tua sedang meminggul sesuatu yang sangat berat di punggungnya.

Herannya nenek itu tidak terlihat letih atau pun pucat. Mukanya tampak berseri-seri dan penuh senyuman. Lalu nenek itu bertanya ke pemuda itu.

"Nak... Nenek mau tanya... Kalau lewat jalan ini tembusnya kemana ya?" Pemuda itu merasa heran dan menjawab "Oh Nenek mau kemana? Kalau lewat jalan ini nenek akan ke desa seberang. Ehm nek apa yang Nenek bawa itu?" pemuda itu pun penasaran dengan ap yang dibawa nenek itu.

"Oh terima kasih nak... Nenek mau ke suatu tempat yang bisa menaruh apa yang nenek bawa ini" nenek itu pun menjawab. "Memang apa yang nenek bawa ini?" pemuda itu mulai penasaran.

"Nenek membawa kerikil yang nenek pungut di sepanjang perjalanan nenek ini." Nenek itu menjawab sambil tersenyum

"Maksud nenek yang nenek bawa itu kerikil? Khan itu berat Nek? Kenapa nenek tidak merasa lelah membawa kerikil sebanyak itu?" Pemuda itu makin penasaran.

"Karna nenek mrasa yang nenek bawa ini bukanlah sebuah kerikil yang memberatkan nenek.. Kerikil ini adalah bagian dari perjalanan nenek menuju tempat dimana harus kerikil ditaruh. Kerikil itu indah Nak... dan nenek bahagia membawanya."

Perkataan nenek itu membuat pemuda itu terdiam sejenak... lalu pemuda itu bertanya "Ehm... Kalau boleh saya tahu tempat yang nenek sebut tadi untuk menaruh kerikil ini dimana nek?"

Dengan senyum yang berseri... nenek itu menjawab "Kenangan Nak " Lalu nenek itu berjalan lagi dan menghilang di rerimbunan hutan...
by John Lius ..

Rasa syukur membuat hidup menjadi lebih indah…
Rasa syukur membuat yang sedikit terasa mencukupi…
Rasa syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi lebih berharga…
Rasa syukur mengubah masalah menjadi hikmah…
Rasa syukur mengubah hidangan sederhana terasa istimewa…
Rasa syukur mengubah rumah yang sempit terasa lapang dan nyaman…
Rasa syukur mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga…
Rasa syukur mengubah kekeruhan suasana menjadi kejernihan…
Rasa syukur mengubah yang tidak nyaman menjadi menyenangkan…
Rasa syukur mengubah penolakan menjadi penerimaan…
Rasa syukur mengubah kebencian menjadi kasih sayang…
Rasa syukur menciptakan kedamaian dan ketenangan…
Rasa syukur menjadikan masa lalu sebagai kenangan manis…
Rasa syukur menjadikan masa sekarang adalah keindahan dan kesenangan…
Rasa syukur akan menjadikan hari esok penuh harapan…
Rasa syukur menciptakan visi ke depan yang penuh harapan…
Rasa syukur akan menyebabkan nikmat selalu bertambah…
Rasa syukur akan menjadikan kita lebih dekat dengan Sang Pencipta…
Syukur itu hanyalah dengan cara :
Ikhlas menikmati yang dipunyai…
dan tidak tertipu untuk selalu memikirkan dan mengejar yang tidak dimiliki…

¤¤• HIKMAT SYUKUR •¤¤ 

Rasa syukur membuat hidup menjadi lebih indah...
Rasa syukur membuat yang sedikit terasa mencukupi...
Rasa syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi lebih berharga...
Rasa syukur mengubah masalah menjadi hikmah...
Rasa syukur mengubah hidangan sederhana terasa istimewa...
Rasa syukur mengubah rumah yang sempit terasa lapang dan nyaman...
Rasa syukur mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga...
Rasa syukur mengubah kekeruhan suasana menjadi kejernihan...
Rasa syukur mengubah yang tidak nyaman menjadi menyenangkan...
Rasa syukur mengubah penolakan menjadi penerimaan...
Rasa syukur mengubah kebencian menjadi kasih sayang...
Rasa syukur menciptakan kedamaian dan ketenangan...
Rasa syukur menjadikan masa lalu sebagai kenangan manis...
Rasa syukur menjadikan masa sekarang adalah keindahan dan kesenangan...
Rasa syukur akan menjadikan hari esok penuh harapan...
Rasa syukur menciptakan visi ke depan yang penuh harapan...
Rasa syukur akan menyebabkan nikmat selalu bertambah...
Rasa syukur akan menjadikan kita lebih dekat dengan Sang Pencipta...
Syukur itu hanyalah dengan cara :
Ikhlas menikmati yang dipunyai...
dan tidak tertipu untuk selalu memikirkan dan mengejar yang tidak dimiliki...
by John Lius ..